Selasa, 01 November 2011

KEPEMIMPINAN DAN TOKOH PEMIMPIN OPER LEADER SHIP


Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience, confidence, respect, and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100.
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya. Ketiga kata yaitu pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan yang dijelaskan sebelumnya tersebut memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.

Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan organisasi yang bersangkutan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu :
- Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan menyediakan fasilitasnya.
- Fungsi sebagai Top Mnajemen, yakni mengadakan planning, organizing, staffing, directing, commanding, controling, dsb.



TOKOH PEMIMPIN OPER LEADER SHIP


Prof. Dr. H. Amien Rais (lahir di Solo, Jawa Tengah, 26 April 1944; umur 67 tahun) adalah politikus Indonesia yang pernah menjabat sebagai Ketua MPR periode 1999 - 2004. Jabatan ini dipegangnya sejak ia dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999 pada bulan Oktober 1999.Namanya mulai mencuat ke kancah perpolitikan Indonesia pada saat-saat akhir pemerintahan Presiden Soeharto sebagai salah satu orang yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan Pemerintah. Setelah partai-partai politik dihidupkan lagi pada masa pemerintahan Presiden Habibie, Amien Rais ikut mendeklarasikan Partai Amanat Nasional (PAN). Ia menjabat sebagai Ketua Umum PAN dari saat PAN berdiri sampai tahun 2005.

Sebuah majalah pernah menjulukinya sebagai "King Maker". Julukan itu merujuk pada besarnya peran Amien Rais dalam menentukan jabatan presiden pada Sidang Umum MPR tahun 1999 dan Sidang Istimewa tahun 2001. Padahal, perolehan suara partainya, PAN, tak sampai 10% dalam pemilu 1999. Amien Rais lahir di Solo, 26 April 1944, dari sebuah keluarga yang sangat taat dalam menjalankan agamanya. Suhud Rais, ayahnya, adalah lulusan Mu’allimin Muhammadiyah dan semasa hidupnya bekerja sebagai pegawai kantor Departemen Agama. Sang ibu, Sudalmiyah, adalah alumni Hogere Inlandsche Kweek¬school [HIK] Muhammadiyah, kemudian menjadi aktivis Aisyiyah dan pernah menjabat sebagai ketuanya di Surakarta selama dua puluh tahun.

Sudalmiyah juga dikenal sebagai seorang guru yang ulet. Ia mengajar di Sekolah Guru Kepandaian Putri [SGKP] Negeri dan Sekolah Bidan Aisyiyah Surakarta. Karena prestasinya di dunia pendidikan, pada tahun 1985, Sudalmiyah mendapat gelar Ibu Teladan se-Jawa Tengah. Ia juga aktif di partai politik Masyumi ketika masa jayanya pada tahun 1950-an. Kakek Amien Rais, Wiryo Soedarmo, adalah salah seorang pendiri Muhammadiyah di Gombong, Jawa Tengah. Jadi, Amien Rais dilahirkan dari keluarga yang sangat kental warna Muhammadiyahnya.

Amien merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Kakaknya adalah Fatimah, dan empat adiknya adalah Abdul Rozak, Achmad Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Asyiah. Mereka tumbuh dan dibesarkan di kampung Kepatihan Kulon. Sejak kecil mereka sudah dilatih disiplin oleh sang ibu. Bila Amien kecil melanggar, sang ibu tidak segan-segan menghukumnya. Mereka harus bangun pukul 04.00 WIB setiap pagi. Caranya dengan meletakkan jam weker di dekat tempat tidur. Dan ketika bangun, mereka diminta untuk mengucapkan “ashalatu khairum minan naum” dengan suara keras sehingga terdengar sang ibu. Sang ibu biasanya memberikan imbalan berupa uang 50 sen. Uang tersebut lalu mereka tabung, untuk dibelikan baju baru menjelang lebaran.

Walaupun tegas, tetapi sang ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya. Anak-anaknya dibiarkan tumbuh secara alami, sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Hanya saja, pesan sang ibu yang tak pernah putus adalah mengingatkan mereka bahwa haki¬kat hidup adalah ibadah. Yang terus diingat Amien, ketika ibunya berkata, “Ingat Mien, berkemah pun ibadah.”

Dalam berbagai kesempatan, Amien Rais secara terus terang mengakui bahwa ibunyalah yang sangat mempengaruhi karakternya yang lugas tanpa basa-basi. Sampai kini Amien masih menempatkan ibunya sebagai konsultannya dan tempat pelipur lara. Mana kala ia meng¬hadapi situasi atau persoalan pelik, ia selalu pulang ke Solo menemui sang ibu untuk meminta pendapatnya, atau sekadar untuk menghindari kejaran wartawan yang pantang ia tolak. Setiap Idul Fitri ia beserta semua saudaranya juga berkumpul di rumah sang ibu. Menurut Amien, hingga usia 80-an, ketegasan dan kejernihan berpikir Ibunya masih tetap seperti dulu. Ibunda Amien Rais wafat hari Jumat, 14 September 2001 di Solo, Jawa Tengah, dalam usia 89 tahun.

Sewaktu masih duduk di bangku SD, Amien kecil bercita-cita ingin menjadi walikota. Cita-cita ini sangat dipengaruhi oleh kekagumannya pada Muhammad Saleh yang menjabat Walikota Solo waktu itu. Muhammad Saleh adalah seorang muslim yang taat. Ia sering memberikan pengajian di Balai Muhammadiyah Solo. Walikota asal Madura ini sangat dihormati dan dicintai oleh rakyatnya. Namun setelah SMA, cita-cita Amien berubah. Ia ingin jadi duta besar. Mungkin cita-cita ini yang ikut mempengaruhinya untuk memilih jurusan hubungan internasional ketika memasuki perguruan tinggi.

Prinsip hidup yang jadi pegangannya diakuinya sangat sederhana, yaitu mencari ridha dan ampunan Allah. Untuk mencapainya, orang harus berbicara dan berbuat apa adanya. “You are what you are,” katanya suatu ketika. Ia membagi kebahagiaan menjadi tiga jenis, yaitu kebahagiaan spiritual, kebahagiaan intelektual, dan kebahagiaan psikologis. Kebahagiaan spiritual diperoleh dengan cara menjalani hidup sesuai dengan rel agama. Kebahagiaan intelektual diperoleh dengan cara memberikan konstribusi pemikiran kepada masyarakat. Sedangkan kebahagiaan psikologis didapatnya bila ia bisa berbuat atau menolong orang lain.

Amien Rais menikah pada 9 Februari 1969, dengan seorang gadis yang sudah dikenalnya sejak mereka masih sama-sama kanak-kanak, Kusnasriyati Sri Rahayu. Selama sepuluh tahun pertama pernikahannya ia belum dikaruniai anak, meskipun ia sudah berkonsultasi dengan banyak dokter spesialis kandungan di Solo, Yogya, bahkan ketika berada di Chicago. Sampai suatu saat mereka berdua mendapat kesempatan naik haji ke Makkah. Di depan Ka’bah mereka berdua memanjatkan doa, memohon kepada Allah agar memenuhi keinginan mereka akan keturunan. Waktu itu mereka sedang melakukan penelitian di Mesir. Setelah kembali ke Kairo, dua bulan lebih sang istri tidak dikunjungi tamu rutin bulanan. Bahkan ada yang aneh: perutnya terasa gatal-gatal. Akhir¬nya mereka sepakat untuk pergi ke dokter kandungan. Dan hasilnya positif, sang istri dinyatakan hamil. Bagi mereka berdua, kejadian itu merupakan mukjizat dan karunia Allah semata. Setelah anak yang pertama lahir, selanjutnya setiap dua tahun sang istri hamil lagi. Kini mereka sudah dikaruniai lima orang anak, tiga putra dan dua putri. Nama-nama mereka diambil dari Al Qur’an dan dikaitkan dengan kenangan dan peristiwa yang menyertai kelahirannya. Yang pertama diberi nama Ahmad Hanafi, kemudian Hanum Salsabiela, Ahmad Mumtaz, Tasnim Fauzia, dan yang terakhir Ahmad Baihaqy.

Kusnasriyati adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Untuk mengisi kesibukannya, ia mendirikan Taman Kana¬k-Kanak [TK] di sebelah rumahnya. Karena ketekunannya, TK ini kemudian menjadi besar dan terkenal. Ia juga membuka kedai sederhana yang diminati banyak mahasiswa. Dilihat dari penampilannya yang sederhana, termasuk gaya bicara yang sederhana, ia tidak beda dengan ibu rumah tangga lainnya. Tetapi, di mata Amien Rais, ia adalah wanita luar biasa.
Keberanian dan ketegaran yang dimiliki Amien Rais ternyata tidak lepas dari peran sang istri. Suatu saat, ketika diinterviu seorang wartawan Jepang, saya melihat dengan nada bangga Amien Rais mengatakan, “Istri saya mungkin merupakan wanita terbaik se-Asia Tenggara.” Komentar tersebut mungkin terasa berlebihan bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagi Amien Rais. Ia pernah menceritakan kepada saya bahwa ketika studi di Chicago, karena beratnya beban kuliah yang dihadapi, hampir saja ia putus asa. Untung ada sang istri yang terus-menerus memompa semangatnya.
Begitu juga ketika ia merasa lelah saat melawan Orde Baru, istrinya tidak pernah lelah untuk membangunkan kembali spiritnya. Sampai-sampai ia pernah mengomentari istrinya sebagai sumber inspirasi dan motivasinya. Bahkan menjelang tumbangnya Soeharto, sempat tersebar isu bahwa Amien Rais akan ditangkap. Ia kemudian memberi tahu sang istri tentang berita buruk yang akan menimpanya. Dengan nada tegar sang istri menjawab, “Insya Allah ini akan mempercepat kejatuhan Rezim Soeharto.”

Bila Allah mengaruniainya umur panjang, di masa tuanya nanti Amien hanya ingin melihat anak-anaknya bisa menyelesaikan pendidikannya masing-masing. Sementara ia sendiri ingin mengisi masa tuanya dengan menulis dan memberikan pengajian. Amien merujuk pada almarhum A.R. Fachruddin dan ibunya sendiri yang sampai akhir hayatnya masih memimpin Sekolah Keperawatan Muhammadiyah di Solo.

Aktifitas Saat Belia
Sejak belia Amien Rais sudah terlibat dalam ber¬bagai gerakan. Kecintaannya pada organisasi diawali dari keterlibatannya di pandu Hizbul Wathon. Ia di¬percaya oleh teman-temannya untuk memimpin sebuah regu yang terdiri dari tujuh orang yang diberi nama regu Rajawali. Regu yang dipimpinnya selalu memenangkan berbagai perlombaan, seperti lomba tali-temali, morse, membuat jembatan, sampai pada lomba masak-memasak.
Di sinilah Amien kecil mulai menyadari kekuatan ke¬bersamaan dan makna kepemimpinan. Ketika menjadi mahasiswa, ia termasuk salah seorang pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah [IMM]. Ia juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam [HMI], dan pernah di¬percaya untuk mendu¬duki jabatan sekretaris Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam [LDMI] HMI Yogyakarta.

Di samping kegandrungannya berorganisasi, Amien Rais juga sudah mulai aktif menulis artikel sejak belia. Dawam Rahardjo menuturkan:

“Ketika mahasiswa, Amien Rais telah menjadi penulis kolom yang tajam dan produktif. Oleh tabloid mingguan Mahasiswa Indonesia yang terbit di Bandung bersama-sama dengan Harian Kami di Jakarta, koran mahasiswa yang legendaris di awal Orde Baru, Amien pernah di¬anugerahi Zainal Zakse Award.”

Riwayat Pendidikan
Pendidikan Amien Rais, mulai dari TK sampai SMA, semuanya dijalani di sekolah Muhammadiyah, di kota kelahirannya, Solo. Menurut Amien, karena kecintaan sang ibu pada sekolah Muhammadiyah, maka seandainya ketika itu sudah ada perguruan tinggi Muhammadiyah, pasti ibunya akan memintanya untuk kuliah di situ. Sekolah Dasar diselesaikan tahun 1956, kemudian SMP pada tahun 1959 dan SMA pada tahun 1962. Di samping sekolah umum, ia juga mengikuti pendidikan agama di Pesantren Mamba’ul Ulum. Ia juga pernah nyantri di Pesantren Al Islam.

Setelah tamat SMA, ibunya menginginkan Amien melanjutkan studinya ke Al-Azhar, Mesir. Sementara ayahnya lebih memilih Universitas Gajah Mada [UGM]. Amien tampaknya lebih cocok dengan pilihan sang ayah. Ia kemudian diterima di dua fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi dan Fisipol UGM. Ia lalu berkonsultasi dengan sang ayah, mana fakultas yang lebih baik untuk dipilih. Sang ayah menyerahkan kembali pada Amien untuk memilihnya. Akhirnya ia memilih Fisipol. Mungkin untuk tidak mengecewakan harapan sang ibu, Amien juga kemudian mendaftarkan diri sebagai mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri [IAIN] Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kuliah paralel ini dijalaninya sampai munculnya larangan kuliah ganda oleh pemerintah.

Tahun 1968 Amien menyelesaikan studinya di UGM dengan tugas akhir berjudul Mengapa Politik Luar Negeri Israel Berorientasi Pro Barat. Ia lulus dengan nilai A. Kemudian ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di University of Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat yang diselesaikan tahun 1974 dengan gelar MA. Tesisnya adalah mengenai politik luar negeri Anwar Sadat yang waktu itu sangat dekat dengan Moskow. Itu sebabnya Amien juga harus mendalami masalah komunisme, Uni Soviet, dan Eropa Timur. Minatnya yang sangat besar dalam masalah Timur Tengah tetap tumbuh.
Setelah pulang ke tanah air sebentar, ia kembali lagi ke Amerika untuk mengikuti program doktor di University of Chicago, AS dengan mengambil bidang studi Timur Tengah. Ia berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1981, dengan disertasi berjudul The Moslem Brotherhood in Egypt: Its Rise, Demise and Resurgence [Ikhwanul Muslimin di Mesir: Kelahiran, Keruntuhan, dan Kebangkitannya Kembali]. Penelitian untuk menyusun disertasinya dilakukan di Mesir dalam waktu sekitar satu tahun. Selama berada di Mesir, waktunya dimanfaatkan juga untuk menjadi mahasiswa luar biasa di Departemen Bahasa Universitas Al Azhar, Kairo.

Di UGM ia mengasuh mata kuliah Teori Politik Internasional serta Sejarah dan Diplomasi di Timur Tengah. Ia juga dipercaya mengajar mata kuliah Teori-teori Sosialisme. Yang paling menyenangkannya adalah mata kuliah Teori Politik Internasional. Di Fakultas Pascasarjana UGM ia dipercaya memegang mata kuliah Teori Revolusi dan Teori Politik.

'Mengelola Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan [PPSK]'
Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan [PPSK] adalah lembaga pengkajian dan penelitian di bawah yayasan Mulia Bangsa Yogyakarta. Salah satu raison d’etre kelahiran PPSK adalah keprihatinan masih terbatasnya hasil-hasil pengkajian yang menyangkut masalah-masalah strategis dan kebijakan yang ber¬orientasi pada masyarakat lemah.
Lembaga pengkajian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi pemikiran yang meliputi: Pertama, identifikasi permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan. Kedua, analisa yang akurat mengenai berbagai kecenderungan global di bidang sosial-budaya, agama, ekonomi, politik, dan iptek, serta dampaknya pada bangsa Indonesia. Ketiga, usulan pemecahan terhadap berbagai persoalan bangsa berdasarkan telaah strategis dan kebijakan yang realistis dan matang. Berbagai produk pemikirannya dipublikasikan lewat majalah Prospektif, yang terbit tiga bulan sekali.

Menurut Dawam Rahardjo, PPSK memiliki peran besar dalam membidani lahirnya ICMI. Di kantor inilah pertama kali konsep ICMI digodok, kemudian dibawa ke Wisma Muhammadiyah di Tawangmangu, Solo, untuk disempurnakan. Setelah itu baru dibawa ke Malang.

Sejumlah tokoh penting bergabung di lembaga ini, di antaranya: Moeljoto Djojomartono, Soedjatmoko, Ahmad Baiquni, Kuntowijoyo, Bambang Sudibyo, Umar Anggara Jenie, Ichlasul Amal, Yahya A. Muhaimin, Affan Gafar, A. Syafi’i Maarif, dan Amien Rais yang dipercaya untuk memimpinnya. Masyarakat ilmiah mengenal dan sangat memperhitungkan lembaga ini, selain karena produk-produk pemikirannya, juga karena kredibilitas keilmuan dan reputasi tokoh-tokohnya.
Namun masyarakat luas baru mengetahuinya setelah terjadinya dua peristiwa. Pertama, meninggalnya Dr. Soedjatmoko, seorang yang dikenal luas memiliki reputasi internasional. Beliau pernah menjadi Dubes RI untuk Amerika Serikat, juga pernah menjadi Rektor Pertama Universitas PBB di Tokio. Almarhum meninggal saat berceramah di hadapan teman-temannya di kantor PPSK, sehingga hampir semua media massa di tanah air memberitakan peristiwa kematiannya. Kedua, pertemuan antara Arifin Panigoro dan kawan-kawan dengan kelompok PPSK yang diselenggarakan di Hotel Radison, Yogyakarta, 5 Februari 1998.

Pertemuan ini kemudian dikenal dengan istilah “kasus Radison” dan menjadi polemik panjang yang mewarnai media massa waktu itu, karena oleh rezim Soeharto dituduh sebagai upaya “makar” terhadap pemerintah Orde Baru. Sebetulnya acara tersebut merupakan acara rutin dan bersifat akademis dengan tema reformasi yang meliputi reformasi politik, reformasi ekonomi, dan reformasi hukum. Beberapa orang yang hadir dalam pertemuan itu sempat dimintai keterangan oleh pihak berwajib, bahkan Arifin Panigoro sempat menjadi tersangka.

Konsep Kepemimpinan Amien Rais

Sepak terjang Amien Rais baik sebelum maupun sesudah menjadi ketua PP Muhammadiyah memang sering memunculkan kontroversi, yang paling menonjol adalah penilaian bahwa Amien Rais dengan konsep high politics-nya telah membawa Muhammadiyah terlalu jauh memasuki ranah politik. Oleh sebagian aktivis Muhammadiyah, langkah Amien Rais dianggap keluar dari budaya atau tradisi Muhammadiyah yang sudah berurat berakar sejak masa K.H. Ahmad Dahlan.

Sepak terjang Amin Rais yang sempat membuat miris sebagian pimpinan Muhammadiyah sebenarnya dilandasi dengan suatu pemahaman mendasar bahwa Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Selama ini amar ma’ruf Muhammadiyah sudah cukup banyak, maka itu harus pula diimbangi dengan nahi munkar-nya agar jalannya dakwah menjadi seimbang. Diberbagai kesempatan, Amien Rais menandaskan agar kedua sayap dakwah itu harus seimbang, karena itu jika tidak seimbang maka “pesawat” dakwah akan runtuh berkeping-keping.

Sebenarnya ketidaksiapan sebagian pemimpin Muhammadiyah menerima atau mengikuti langkah Amien Rais tidak bisa dilepaskan dengan begitu kuatnya dominasi rezim orde baru dalam melakukan kontrolnya disegala bidang. Termasuk organisasi kemasyarakatan pun mengalami kooptasi yang luar biasa, sehingga sulit untuk bergerak dengan bebas.
Kalau kita menengik kembali perjalanan sejarah Muhammadiyah sejak awal berdirinya,sebenarnya langkah-langkah politik Amien Rais bukanlah hal baru dalam tradisi bermuhammadiyah. Tokoh-tokoh seperti K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Mas Mansur adalah sosok yang banyak bersinggungan dengan persoalan politik. Sedangkan mengenai kevokalan Amien Rais dalam melakukan kritik kepada pemerintah sebenarnya hal yang sama juga pernah dilakukan oleh K.H. Fachruddin.

Ada yang unik dari Amien Rais, kalau menerangkan Muhammadiyah, ia jarang sekali menyinggung konsep-konsep dasar Muhammadiyah, kepribadian muhammadiyah, matan keyakinan hidup, dan cita-cita muhammdiyah, atau konsep-konsep dasar yang menjadi pedoman bermuhammadiyah lainnya. Ia sepertinya melakukan improvisasi dengan bahasanya sendiri yang langsung merujuk kepada ayat Al-Qur’an dan hadist. Mungkin bagi mereka yang berfikir formalistik dalam muhammadiyah akan menganggap uraian-uraian Amien Rais telah keluar dari konteks muhammadiyah. Tetapi sesungguhnya jika dikembalikan kepada prinsip dasar perjuangan Muhammadiyah bahwa muhammadiyah adalah gerakan yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, maka justru metode yang diterapkan Amien Rais dalam menjelaskan muhammadiyah itulah yang lebih tepat, sebab dengan cara seperti itulah cakrawala bermuhammadiyah menjadi lebih terbuka, inklusif, serta dapat dipahami oleh siapapun orang islam baik yang berasal dari warga Muhammadiyah ataupun bukan dari Muhammadiyah.

Analisis Kritis Proses Amien Rais Menjadi Pemimpin.
a). Biografi dan Lingkungan Keluarga.
Muhammad Amien Rais. Demikian nama lengkapnya. Ia dilahirkan pada tanggal 26 April 1944 di Solo, Jawa Tengah. Amien Rais lahir dan tumbuh dilingkungan keluarga Muhammadiyah yang menaruh perhatian besar pada pendidikan dan taat beragama. Ayahnya Syuhud Rais, adalah tokoh muhammadiyah Surakarta yang menjadi kepala kantor pendidikan agama, Departemen Agama Surakarta. Ibunya bernama Sudalmiyah adalah seorang guru.

b. Lingkungan Pendidikan.
Sebagai anak yang dibesarkan dilingkungan Muhammadiyah, Amien Rais menerima pendidikan formalnya dilingkungan sekolah muhammadiyah. Ia mengawali pendidikan formalnya di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Solo dan tamat pada tahun 1956. Selanjutnya ia melanjutkan ke SMP Muhammadiyah Solo (selesai tahun 1959), dan SMA Muhammadiyah Solo (selesai tahun 1962).
Selain mendapat pendidikan disekolah, ia juga pernah mengecap pendidikan pesantren. Sambil belajar di SMP ia masuk pesantren Manba’ul Ulum (pernah jadi PGAN, sekarang MAN). Dan pesantren Al-Islam (kini bukan pesantren lagi) yang keduanya terdapat di Solo.

Ketika hendak melanjutkan studi ke perguruan tinggi, kedua orangtuanya sangat mengharapkan agar ia memilih perguruan tinggi agama supaya kelak bisa melanjutkan studi ke Mesir dan menjadi kiai. Akan tetapi Amien Rais memilih jurusan Hubungan Internasional, Fak. Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.Barangkali agar tidak mengecewakan Ibunya Amien Rais juga mendaftar di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sayangnya beberapa kemudian keluar keputusan pemerintah, bagi mahasiswa yang kuliah ganda, harus memilih salah satu. Maka terpaksa Amien Rais meninggalkan IAIN sekarang UIN.
Setelah menyelesaikan pendidikan di UGM, pada 1968 ia dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan Pasca Sarjana di University Of Notre Dame, Indiana dan selesai tahun 1974. Kemudian ia mengikuti program doktor di Political Science, University Of Chicago, dengan mengambil spesialisasi dibidang politik Timur Tengah dan selesai tahun 1984.

c. Lingkungan Sosial.
Amien Rais mengawali karirnya di dunia pendidikan sebagai dosen FISIP UGM sejak 1969. Untuk beberapa lama tugas sebagai dosen ia tinggalkan karena melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Ia aktif kembali memberi kuliah di FISIP UGM pada 1981. Disamping ia mengajar di UGM ia juga meluangkan waktunya mengajar dibeberapa perguruan tinggi lainnya, seperti di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Tokoh intelektual Islam Indonesia yang dikenal sebagai pakar politik ini mengemban amanat sebagai Ketua Umum Muhammadiyah periode 1995-2000 yang terpilih dalam muktamar muhammadiyah ke 43 di Banda Aceh (6-10 Juli 1995). Sebetulnya, ia terpilih sebagai ketua umum muhammadiyah menggantikan KH. Ahmad Azhar yang wafat pada tanggal 28 Juni 1994 sebelum sempat menyelesaikan masa kepengurusan (1990-1995).

Konsep Kepemimpinan Amien Rais dalam Perspektif Islam.
Dalam mukaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah disebutkan bahwa setiap pribadi muslim wajib mengikuti jejak para Nabi, dan berusha untuk menciptakan masyarakat utama yakni masyarakat yang adil, makmur, aman dan damai dalam lingkungan Tuhan Yang Maha Pengampun didunia ini dengan niat ikhlas, bertanggung jawab, sabar dan tawakal dalam menghadapi segala kesukaran atau kesulitan yang menimpa dirinya atau rintangan yang menghalangi pekerjaanya dengan penuh pengharapan akan perlindungan dan pertolongan Allah.
Apa yang dilakukan Amien Rais merupakan internalisasi dari pengalaman para pemimpin muhammadiyah sebelumnya. Dengan ajaran dan doktrin muhammadiyah, khususnya mengenai kewajiban ber amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu pilar utama dari citra tauhid. Bila umat Islam yang mengorientasikan dirinya pada tauhid dilarang untuk melaksanakan kewajiban ber amar ma’ruf nahi munkar, maka implikasinya akan sangat besar bagi kehidupan umat manusia.
Dalam pandangan muhammadiyah, amar ma’ruf atau mengajak kebajikan harus diimbangi dengan nahi munkar atau mencegah ketidakbajikan dan kenistaan. Pribadi yang diinginkan oleh muhammadiyah adalah pribadi yang mampu menjaga keseimbangan itu, meskipun berakibat pahit bagi dirinya. Pada sisi ini Amien Rais sesungguhnya telah mendapatkan kemenangan secara moral.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar